Sabtu, 18 Maret 2017

Pria ini berpura-pura miskin di depan teman-temannya...Baca kisahnya..apa yang terjadi selanjutnya ?

Reuni gak seharusnya jadi ajang pamer kekayaan lah…

Hari itu Bimbo dengan gembira memberi tahu sang istri akan rencananya menghadiri reuni teman SMA. Istri Bimbo hanya menanggapi dengan datar, menurutnya reuni teman sekolah hanyalah sebuah ajang bagi orang-orang pamer pencapaian dan harta saja. Istrinya juga memperingati Bimbo untuk berhati-hati. Bimbo yang kesal mendengar jawaban dingin sang istri pun balik berkata,"Kalau kamu kuatir sama saya, bilang aja langsung ma, jangan gak enak gitu dong ngomongnya. Teman-temanku bukan orang seperti yang kamu katakan tadi!"

Walaupun marah dan tidak terima dengan perkataan sang istri, akan tetapi jauh di dalam lubuk hati Bimbo mengakui bahwa perkataan sang istri mungkin ada benarnya. Akhirnya Bimbo memutuskan untuk pergi ke reunian dengan berpura-pura miskin untuk mengetes apakah benar teman-temannya telah berubah, lebih mementingkan harta daripada rasa empati dan persahabatan.
Ketika hari H Bimbo datang ke restoran dengan pakaian sederhana. Ia mengarang cerita bahwa ia hidup pas-pasan dari hasil menjual buah di pasar walau sebenarnya Bimbo hidup berkelimpahan dari hasil pengelolaan beberapa supermarket miliknya di kota. Tak disangka, beberapa teman dekat bimbo malah mempermalukannya di depan semua orang yang datang hari itu. Salah seorang temannya berkata dengan sombong, "Lu kenapa gak konak gue Bim, nanti gue kasih deh kerjaan buat lu. Makan-makan hari ini lu gak usah bayar lah, ntar gue yang bayarin bagian lu, segini doang mah kecil buat gue.

Tenang aja bro, yang penting semua seneng, bener gak guys?" Teman-teman Bimbo pun mengiyakan sambil terawa terbahak-bahak. Sedetik kemudian salah seorang teman yang lain lanjut meramaikan suasana sambil berkata,"Ntar abis ini kita pergi karaoke, lu juga ikut yah Bim. Kita pasti bayarin kok.. Tenang aja! Yang penting lu ikut seneng-seneng sama kita ok?" Mendengar hal tersebut teman-teman Bimbo pun kembali tertawa terbahak-bahak.

Bimbo tak siap menerima kenyataan bahwa teman-temanya benar-benar telah berubah. Ia tak menyangka orang-orang yang dulu begitu dekat denganya tega melakukan hal seperti itu. Bimbo menahan perih hati dan berusaha tertawa bersama teman-teman yang sudah tak ia kenal. Setelah mereka selesai makan, Bimbo melambaikan tangan pada pelayan untuk minta bon kemudian membayarnya. Suasana hening seketika dan semua mata tertuju pada Bimbo. Salah seroang teman Bimbo akhirnya sadar dan berkata,"Duh Bim, masa kamu yang bayarin semua? Janganlah, kita bagi-bagi aja…" Bimbo pun menjawab,"Kita semuakan teman, tidak masalah lah siapa yang bayar, sama saja… Sekalipun aku benar miskin, aku masih punya harga diri." Seusai berkata demikian, Bimbo berdiri meninggalkan ruangan sambil melambaikan tangan tanpa memalingkan muka lagi.

Sobat Cerpen, reunian seharusnya menjadi ajang bagi kita untuk melepas rindu, nostalgia, bercanda dan tertawa, bukan malah jadi ajang pamer kekayaan dan prestasi. Yang setuju, yuk share artikel ini sebanyak-banyaknya!
@Cerpen.co.id

Direktur baru ini, baru saja kehilangan pekerjaannya karena sikapnya ? Apa yang telah dilakukannya ?

Hargailah setiap orang, Jangan pernah Melihat Dari suku,drajat mau pun penampilan.

Dalam kehidupan di sekitar, kita tidak akan menduga banyak orang bisa melakukan apa saja, bahkan dengan baju yang biasa - biasa, atau wajah yang tidak mendukung, itu tidak memungkinan status dan kekuatan di balik fisiknya besar!



Yuk kita lihat cerita nyata di bawah ini

Nenek Tukang Nyapu :

Seorang wanita berumur 40 tahunan, yang baru saja menjadi direktur di sebuah perusahaan, membawa putranya datang ke kantor untuk makan.

Selesai makan, putranya membuang plastik bekas makan di lantai, dan datanglah seorang nenek dengan sapunya datang dan menyapu bersih sampahnya...

Wanita yang baru menjabat jadi direktur ini, melihat nenek ini menyapu, dengan baju biasanya, wajahnya yang sudah berkeriput bukannya pensiun, malah harus jadi tukang sapu,

Karna itulah dengan senyum sinisnya dia bilang ke putranya,"Nak, sudah gede ntar rajin belajar ya, jangan jadi kayak dia lihat tuh, udah tua tapi masih ngambil sampah!"


Putranya yang masih belum mengerti apa - apa, hanya angguk - angguk.
Nenek ini melihat kesombongan wanita ini, dia bertanya,"Mohon maaf, numpang nanya, kamu siapa ya di perusahaan ini?"

Dengan angkuhnya dia menajwab,"Aku direktur baru di sini... Emang kenapa?"

Nenek ini hanya angguk kepala tak menjawab.
Dari jauh datang seorang pria dengan jas rapi, menghampiri nenek ini.
"Ibu CEO, rapat sebentar lagi akan berjalan, silahkan masuk ke ruangan bu."

Nenek ini buka jaket lusuhnya, dan terlihat baju dan jas rapi di balik jaketnya yang lusuh, ternyata dia adalah pendiri perusahaan ini,
tanpa mengubah ekspresinya, dia berkata ke pria itu,"Mas, tolong ya cabut jabatan wanita sombong ini, kita gak perlu orang sombong seperti dia di perusahaan kita, bisa berabe ntar."

Pria itu pun mencatat nomor pekerja wanita ini dan di hari itu dia dipecat!

Wanita ini tak bisa menjawab apa - apa, terpaku, nenek CEO ini berkata ke anaknya,"Aku memecat mamamu, berharap kamu mengerti, menjadi orang besar bukan ditentukan dengan kepintaran orang itu, tetapi bagaimana kita, orang besar, mampu menghargai orang - orang yang rendah di bawah dan membantu mereka."

Ladies and Gentleman, hidup itu seperti roda, banyak lingkup lingkup kehidupan orang lain yagn tak kita mengerti.

Jangan pandang seseorang hanya dari luar fisiknya, namun hargailah setiap orang.

Selasa, 10 Januari 2017

Meneladani Rasul, Bersikap Baik kepada Non-Muslim

Bagaimana sikap Nabi Muhammad saw terhadap Non-Muslim? Tulisan berikut diharapkan dapat memberikan sekilas gambaran bagaimana Rasulullah saw sejatinya merupakan sosok panutan yang toleran dan pribadi mulia yang sangat menghormati pemeluk agama lain.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Al-Imran: 159)
Nabi Muhammad saw merupakan pemimpin terbaik pilihan Allah untuk manusia. Hal ini tidak hanya menjadi klaim umat Muslim semata tapi juga diakui oleh orang-orang Non-Muslim. Bahkan di masa hidup beliau, kaum kafir Quraisy yang senantiasa memusuhi beliaupun mengakui akan kepemimpinan beliau. Sikap rendah hati, sopan santun, lemah lembut dan adil serta sabar bisa kita temukan dalam keseharian beliau, maka tak heran bahwa siapapun akan kagum dengan sikap dan perilaku beliau.
Pada saat tinggal di Mekkah, orang-orang kafir Quraisy senantiasa mencaci-maki dan menghina bahkan perlakuan kasar terhadap fisik beliau pun sering dilakukan oleh mereka. Tapi yang beliau lakukan hanya sabar dan tawakkal kepada Allah SWT dan mendoakan semoga mereka diberi petunjuk oleh Allah SWT, disamping itu beliau pun tetap menyampaikan risalah beliau kepada mereka dengan bijaksana dan baik, sesuai dengan firman Allah:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 125)
Ini menjadi salah satu bukti bahwa sikap dan perilaku beliau merupakan cerminan seorang hamba didasari dengan ketakwaan sehingga beliau menaruh kecintaan terhadap sesama makhluk Allah yang dengan jelas membenci beliau. Kecintaan dan kasih sayang beliau terhadap makhluk Allah ini, memancar dari diri beliau secara fitrah.
Selain itu, beberapa sikap Rasulullah saw terhadap Non-Muslim lainnya juga akan kita temukan di dalam beberapa riwayat berikut:
Menjunjung Tinggi Kemanusiaan
Perbedaan agama tidak menghalangi Rasulullah saw untuk menghormati mereka. Apapun keyakinan seseorang terdapat satu persamaan, yaitu sebagai sesama ciptaan Allah Yang Esa.
Dalam sebuah riwayat disebutkan. Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra dan Sahal bin Hunaif ra sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw bersabda: Bukankah ia juga manusia? (Shahih Muslim No.1596)
Perlakuan Rasulullah Terhadap Musuh
Dengan sikap yang lemah lembut dan tidak memiliki rasa dendam terhadap musuh-musuhnya, beliau senantiasa berbuat baik terhadap mereka yang bisa dikatakan bukan saja musuh beliau, tapi kepada orang yang haus akan darah beliau dan darah para sahabat beliau.
Satu kejadian ketika terjadi Fatah (Penaklukan kembali) Mekkah, Rasulullah saw mengampuni orang-orang yang dulunya melempari beliau dengan kotoran onta, menghalangi jalan beliau dengan duri-duri, menganiaya dan berusaha membunuh beliau serta para sahabatnya tapi yang dilakukan beliau saat itu adalah beliau bersabda kepada orang-orang kafir Quraisy:
“Wahai penduduk Mekkah! Hari ini tidak ada pembalasan terhadap kalian, laa tatsriiba ‘alaikum Yaum.” Kalian semua bebas!
Menghormati Non-Muslim
Kejadian Fatah Mekkah membuat umat Islam memegang kendali di Mekkah namun, beliau senantiasa menanamkan kepada kaum Muslimin untuk tetap menghormati orang-orang kafir Quraisy dan tidak mengganggu harta mereka, serta tidak berlaku sewenang-wenang atas mereka. Beliau menyampaikan, “Janganlah kalian saling menzalimi, Karena itu merupakan kezaliman yang dilarang oleh Allah SWT dan Al-Qur’an mengajarkan bahwa:
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS At-Taubah 6)
Dari beberapa riwayat ini maka jelas, bahwa kehadiran Rasulullah di tengah-tengah umat manusia senantiasa membawa manusia ke arah kebaikan dan memberikan teladan bagi umat manusia umumnya dan kaum Muslimin khususnya. Beberapa sikap yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw di atas tadi hendaknya menjadi pedoman bagi kita bersama, sehingga kita bisa mengikuti setiap amalan yang beliau lakukan, dan menjadi pengikut beliau yang sejati.
Dari riwayat di atas dapat diketahui pula, bahwa agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw merupakan agama yang indah, yang di dalamnya kental dengan nuansa kedamaian, toleransi dan saling mengasihi sesama makhluk-Nya.
Source: www.islamindonesia.id

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani saat Umat Saling Mengkafirkan

Negeri Baghdad sedang mengalami kekacauan. Umat Islam terpecah belah. Para tokoh Islam menjadikan khutbah Jum’at sebagai ajang untuk saling mengkafirkan. Di saat bersamaan, seorang Abdul Qadir Al-Jailani muda diamanati oleh gurunya, Syekh Abu Sa’ad Al-Muharrimi untuk meneruskan dan mengembangkan madrasah yang telah didirikannya.<>
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani lalu berpikir bahwa perpecahan di antara umat Islam adalah akar masalah pertama yang harus segera disikapi, ilmu pengetahuan tidak pada posisinya yang benar jika hanya digunakan sebagai dalih untuk saling menyesatkan di antara sesama saudara.
Di tengah kegelisahannya atas keadaan umat Islam pada saat itu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berniat untuk menemui setiap tokoh dari masing-masing kelompok, niat memersatukan umat Islam tersebut ia lakukan dengan sabar dan istiqomah, meskipun hampir dari setiap orang yang dikunjunginya justru menolak, mengusir, atau bahkan berbalik memusuhinya.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tetap teguh kepada prinsipnya, bahwa perpecahan Islam di sekitarnya tidak bisa didiamkan, melalui madrasah yang sedang dikembangkannya, dia mulai melakukan penerimaan murid dengan tanpa melihat nama kelompok dan status agama.
Lama kelamaan para tokoh Islam yang secara rutin dan terus menerus ditemuinya mulai tampak suatu perubahan, nasihat-nasihatnya yang lembut dan santun membuat orang yang ditemuinya berbalik untuk berkunjung ke madrasah yang diasuhnya, padahal usia mereka 40 tahun lebih tua dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
Hasil yang mewujud itu belum memberikan kepuasan bagi sosok yang kelak dikenal sebagai Sultonul Awliya –raja para wali- ini, dikarenakan permusuhan antar sesama kelompok Islam pada saat itu masih berlangsung, hingga pada suatu ketika, beberapa tokoh Islam sengaja ia kumpulkan di sebuah majlis madrasah tersebut, kemudian dia berkata:
“Kalian ber-Tuhan satu, bernabi satu, berkitab satu, berkeyaknan satu, tapi kenapa dalam berkehidupan kalian bercerai-berai? Ini menunjukkan bahwa hati memang tak mudah menghadap kepada Tuhan,”
Sontak seluruh tamu saling merasa bersalah, kemudian saling meminta maaf, dan persatuan umat Islam yang dicita-citakan salah satu tokoh besar Islam ini benar-benar terwujud.

Sobih Adnan
Disarikan dari ceramah Syekh Fadhil Al-Jailani, keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani di Pesantren Kempek Cirebon, Jum’at 21 Juni 2013.(Red: Anam)

Kisah Nabi meminta suaka pada raja nonmuslim

Ketika amarah kafir Quraisy tak terbendung lagi, Nabi Muhammad SAW meminta sebagian sahabatnya untuk hijrah ke negeri Habasyah. Ini adalah negeri aman dan damai, meskipun dipimpin oleh Raja nonmuslim. Nabi meminta sahabat hijrah lantaran beliau tidak sanggup melihat siksaan dan ancaman yang dilancarkan orang kafir Mekah. Terlebih lagi, paman beliau Abu Thalib tampaknya tidak mampu menahan kemarahan kaumnya itu.

    Rasul berkata kepada sahabatnya:

لو خرجتم إلى أرض الحبشة، فإن بها ملكا لا يظلم أحد وهي أرض صدق حتى يجعل الله لكم فرجا مما أنتم فيه

"Kalau kalian pergi ke Habasyah, di sana ada seorang raja yang tidak zalim. Habasyah negeri yang tepat, sampai Allah SWT memberikan jalan keluar bagi kalian dari kondisi yang kalian hadapi saat ini.” (Al-Bidayah wa al-Nihayah karya Ibnu Katsir)
Berdasarkan catatan Ibnu Katsir dalam Bidayah wa al-Nihayah, Utsman bin ‘Affan dan istrinya Ruqayyah termasuk orang yang pertama hijrah ke Habasyah. Berikutnya disusul oleh Rombongan Ja’far bin Abu Thalib dan beberapa sahabat lainnya. Sesampai di sana para sahabat merasa nyaman. Tidak ada yang menganggu ketenagan mereka.

Akhirnya kepergian mereka ke Habasyah tercium oleh Kafir Mekah.  Mereka pun mengutus ‘Amr bin ‘Ash dan ‘Umarah bin Walid untuk menemui Raja Najasyi. Mereka membawa hadiah dan meminta Raja Najasyi mengusir kaum muslimin dari negeri tersebut.

Sesampai di Habasyah, kedua orang utusan ini langsung menemui Sang Raja dan bersujud kepadanya. Mereka berucap:

“Sesungguhnya sekelompok orang dari negeri kami menetap di daerahmu. Mereka tidak menyukai kami dan agama kami.”

“Di mana mereka sekarang?"

“Di negeri tuan” Jawab keduanya

“Kalau begitu, bawalah mereka menghadap pada saya” Pinta Raja Najasyi.

Pengawal kerajaan pun mencari para sahabat dan meminta mereka menghadap Sang Raja. Mendengar undangan tersebut, Ja’far bin Abi Thalib berkata kepada para sahabat, “Serahkan kepada saya, biar saya yang menjadi juru bicara kalian.” Sahabat lain pun menyetujuinya.

Setiba di istana, Ja’far mengucapkan salam dan tidak sujud kepada Raja, sebagaimana yang dilakukan utusan kafir Mekah. Orang-orang kerajaan pun, begitu juga dua utusan tadi, berseteru:

“Mengapa kalian tidak sujud.”

“Sesungguhnya Kami tidak sujud kecuali kepada Allah SWT,” Jawab Ja’far mantap.

“Maksudnya?"

“Sesungguhnya Allah mengutus seorang Rasul kepada kami. Rasul tersebut memerintahkan kepada kami untuk tidak sujud melainkan hanya kepada Allah dan memerintahkan kepada kami untuk shalat dan membayar zakat.”

“Wahai Raja, mereka berbeda dengan anda terkait ‘Isa bin Maryam” Ungkap ‘Amr bin ‘Ash.

“Apa yang kalian tahu tentang ‘Isa dan ibunya,” tanya Raja penasaran.

“Baiklah, kami mengatakan sebagaimana dikatakan Allah SWT, ‘Isa adalah manusia (yang diciptakan Allah dengan) kalimat dan ruh dari Allah yang dititipkan kepada Maryam, seorang gadis perawan yang tidak disentuh oleh lelaki manapun”

Mendegar jawaban Ja’far ini, Raja Najasyi mengangkat tangkai kayu dan beseru, “Wahai orang-orang Habasyah! Wahai para pendeta! Demi Allah, mereka tidak menambahkan sedikitpun tentang Nabi ‘Isa walau sepanjang tangkai kayu ini.”

“Selamat untukmu dan orang-orang yang datang bersamamu. Saya bersaksi bahwa dia (Muhammad) adalah utusan Allah. Ia adalah rasul yang dikisahkan dalam Injil dan dikhabarkan oleh Nabi ‘Isa. Tinggallah kalian di sini sampai kapanpun. Andaikan saya bukan seorang raja, saya akan datang menemuinya dan membawa kedua sandalnya,” ucap Raja.

Beliaupun akhirnya, menolak hadiah yang dibawa utusan kafir Quraisy.

Semasa hidupnya, Raja Najasyi belum pernah bertemu Nabi Muhammad SAW. Pada saat beliau meninggal, Nabi memohon ampun untuknya dan meminta kaum muslimin untuk melaksanakan shalat ghaib. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Kisah Inspirasi: Santri dengan supir mobil penjual sayur

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga." (H.R Muslim).

Kiranya, bukan hanya jalan ke surga yang dimudahkan oleh Allah. Percayalah, Allah juga akan memudahkan jalan kita saat akan berangkat menuju tempat mencari ilmu.

Kejadian menarik dikisahkan keponakan saya yang bernama Heru. Dia nyantri di salah satu pesantren di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Saat itu, dia bersama kedua teman kobongnya yang bernama Azis dan Jalal ingin sekali menghadiri pengajian di pesantren KH. Uci Turtusi, Cilongok, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang. Kebetulan di pengajian Ki Uci juga akan digelar haulan Syeh Abdul Qodir Jailani. Keinginan mereka bertiga pun kian membuncah. Namun apa daya, mereka hanya santri bale rombeng yang tidak punya banyak uang dan tidak punya kendaraan.

Namun, keterbatasan fasilitas dan biaya ternyata tidak menyurutkan langkah mereka. Ketiganya tetap nekat berangkat ke pengajian Ki Uci meski hanya bermodalkan uang Rp10 ribu. Uang itu tentu tidak cukup untuk sekadar ongkos. Apalagi jarak pesantren mereka dengan pesantren Ki Uci sangat jauh. Tapi begitulah, kekuatan hati mengalahkan segalanya. Bakda Isya, mereka pun berangkat.

Cukup jauh mereka berjalan kaki. Cucuran keringat sudah berkali-kali mereka seka dengan sarung. Tidak terasa 3 jam sudah mereka berjalan kaki. Salah satu dari mereka usul agar uang Rp 10 ribu dibelikan air minum. Wajar, berjalan kaki selama lebih kurang 3 jam pasti membuat dahaga.

Namun sayang seribu sayang, uang Rp 10 ribu hilang entah kemana. Mungkin jatuh saat Heru berkali-kali menyeka keringat dengan sarung. Persoalannya, uang itu dia simpan di gulungan sarung. Alih-alih menghardik Heru, kedua temannya justru tertawa atas kejadian raibnya uang. Seketika itu haus mereka hilang. Mereka pun melanjutkan perjalanan.

Ujian dimulai, menjelang tengah malam, tiba-tiba turun hujan. Posisi mereka yang sudah berada di jalan raya menyulitkan mereka mencari tempat berlindung dari hujan. Kendaraan yang lalu lalang pun semakin jarang. Terpaksa, di bawah guyuran hujan, mereka terus melanjutkan perjalanan. Beruntung, beberapa saat kemudian mereka menemukan tempat berteduh.

Di sebuah bangunan tua tak berpenghuni mereka istirahat sambil menunggu hujan minggat. Rokok yang tinggal sebatang mereka nikmati bersama. Mereka mengisi waktu dengan membaca solawat. Tidak ada sedikit pun niat mereka menghentikan perjalanan. Meski diakui posisi yang sudah di tengah menjadi salah satu pertimbangan. "Mau gimana lagi? Balik lagi ke kobong juga sudah sangat jauh. Duit juga sudah hilang. Ya sudah pasrah saja sama Allah," kata Heru bercerita.

Setelah satu jam, hujan reda. Perjalanan kembali dimulai. Jalanan becek dan beberapa genangan air diakui membuat perjalanan mereka kian melelahkan. Apalagi angin kencang membuat mereka menggigil kedinginan. Sebab, baju mereka memang sudah kebasahan.

Tiba-tiba lewat mobil pikap warna hitam. Mobil itu berhenti di depan mereka. Sang sopir keluar lalu menghampiri ketiganya. Sopir bertanya kepada mereka tentang tujuan mereka. Setelah diceritakan, sang sopir memberi mereka tumpangan. Sebelumnya sang sopir meminta maaf karena hanya bisa memberi tumpangan di bak barang. Karena di depan sudah ada beberapa karung kentang.

Meski duduk di belakang dan digabungkan dengan aneka sayuran, ketiga santri itu tetap bersyukur. Mereka yakin pertolongan Allah telah datang.

Tidak berapa lama, sopir menghentikan mobilnya di sebuah minimarket 24 jam. Sang sopir masuk ke minimarket dan belanja beberapa barang. Tidak disangka, ternyata sopir juga membelikan santri itu banyak makanan dan minuman. Bukan main senangnya santri-santri itu. Setelah dari minimarket sopir melanjutkan perjalanannya. Sementara ketiga santri menikmati perjalanan sambil menikmati makanan. Tidak lupa mereka tetap membaca solawat sepanjang perjalanan.

Tiba di persimpangan, sopir kembali menghentikan laju kendaraannya. Sopir turun dan menghampiri tukang ojek. Sedangkan ketiga santri hanya duduk di bak mobil menunggu apa yang akan selanjutnya terjadi.

Setelah beberapa menit berbincang dengan tukang ojek, sopir menghampiri santri dan berkata "Maaf, saya tidak bisa mengantar sampai tujuan. Pesantren Ki Uci belok ke sana. Sedangkan saya lurus mau ke Pasar Cikupa. Naik ojek saja ya. Tenang, ojek sudah saya bayar semua," kata sang sopir.

Ketiga santri pum hanya bisa bengong. Mereka kagum dengan kemurahan hati sopir itu. Hanya ucapan terimakasih yang bisa mereka katakan.

Sebelum berpisah, sopir itu kembali menunjukkan kebaikannya. Sang sopir memberi uang kepada ketiga santri itu sebesar Rp 600 ribu. " Nih, buat makan. Kalau ojek mah sudah saya bayar," kata sopir itu sambil menyerahkan uang dengan cara bersalaman.

Kemurahan hati sang sopir membuat hati ketiga santri itu tergetar. Ketiganya tidak kuasa menahan air mata. Mereka semakin yakin, Allah bersama orang-orang yang mencari ilmu.

Sebelum berpisah, salah satu santri bertanya kepada sopir itu. "Mang, mamang ini siapa? Orang mana?," tanya santri.

Sopir hanya menjawab "Saya hanya sopir tukang sayur," ujarnya singkat sambil berlalu pergi. Santri pun akhirnya bisa mengikuti pengajian Ki Uci. 

Romdoni, Jurnalis Tangerang Ekspres (Jawa Pos Group)

Senin, 09 Januari 2017

Kisah Seorang Wali Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

Syahdan, suatu masa hidup seorang muda pada zaman Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid berkuasa. Pemuda ini berperangai buruk. Banyak perilakunya tidak menarik simpati penduduk Bashrah. Ia bukanlah pemuda idaman masyarakat. Penduduk kota tersebut kehilangan empati terhadapnya.

Karena perilakunya yang tidak terpuji dan banyaknya maksiat terang-terangan itu, ia kehilangan wibawa di tengah masyarakat. Penduduk memandang rendah kepadanya. Tak satupun anggota masyarakat yang peduli kepadanya.

Namun demikian seorang muda ini selalu tampil lebih baik saat bulan Rabi‘ul Awal tiba. Ia berdandan perlente. Ia mencuci pakaian yang dikenakannya. Ia mengenakan wangi-wangian pada pakaiannya. Rambutnya disisir dengan rapi. Ia bercermin untuk memastikan penampilannya yang terbaik.

Apakah yang dilakukan pemuda ini selanjutnya? Di luar dugaan masyarakat ia mengadakan jamuan kenduri. Di tengah jamuan itu ia meminta sejumlah penduduk untuk membacakan maulid atau sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Perjamuan kenduri semacam ini ia lakukan sepanjang usianya setiap kali bulan Rabi‘ul Awal tiba. Setiap kali bulan maulid tiba, setiap kali itu juga ia berhias, berpakaian rapi, mengenakan parfum, menyisir rambut, menjamu penduduk, dan tentu saja meminta salah satu dari mereka untuk membacakan riwayat kelahiran Rasulullah SAW.

Meski demikian, penduduk tidak mengubah pandangannya terhadap pemuda yang beralih senja. Mereka tetap memandang hina salah satu anggotanya ini. Hingga pada giliran Allah mencabut nyawanya, penduduk masih saja membencinya. Penduduk dengan enggan dan berat hati mengurus jenazahnya.

Tetapi alangkah terkejutnya penduduk Bashrah. Ketika orang ini wafat, mereka mendengar suara tanpa bentuk (hatif) yang menggema di atas langit Bashrah.

“Hai sekalian penduduk Bashrah, saksikanlah jenazah salah seorang waliyullah. Ia adalah seorang yang mulia di sisiku,” kata suara tersebut.

Penduduk Bashrah lalu berduyun-duyun menyaksikan jenazah orang tersebut. Mereka mengurus jenazah itu dengan sebaik-baiknya. Mereka menggelar upacara pemakamannya.

Dalam mimpi mereka melihat orang yang baru dimakamkan mengenakan pakaian berbahan sutra halus dan sutra tebal berlungsin emas. Mereka melihat almarhum berjalan penuh wibawa dengan pakaian indahnya.

“Dengan apa kau mendapatkan kehormatan seperti ini? tanya mereka.
“Berkat penghormatan terhadap hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW,” jawab waliyullah tersebut.

***

Cerita ini dikutip dari I‘anatut Thalibin karya Sayid Bakri bin Sayid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, terbitan Darul Fikr, Beirut, tahun 2005 M/1425-1426 H, juz III, halaman 414. (Alhafiz K)